Untukmu calon imamku, suatu saat jika kau hadir dalam hidupku. Buatlah cerita kita seindah kisah Ali dan Fatimah yang merayakan cinta di jalan syariah. Suatu saat jika kau hadir, beranikan dengan mantap memintaku pada Bapak ku untuk menyempurnakan separuh agama. Yakinkan aku bahwa bersamamu aku tak hanya mendapatkan dunia, tak hanya mencintai raga kita. Pastikan bahwa denganmu aku lebih mencintaiNya, dan selalu berjalan untuk mengamalkan dakwah. Berjanjilah anak – anak kita akan mendapatkan tuntunan iman islam yang cukup untuk menjalani hidupnya nanti. Bersama kita dalam taat padaNya, mencintai alam, menghargai sesama, menghormati orang tua, menyayangi duafa. Bersamamu aku ingin saling mengingatkan saat lupa, saling menguatkan saat rapuh, saling mendukung saat terjatuh. Dan terlebih dari itu, bersamamu aku ingin merekahkan cinta, merangkai bahagia, menuai surga bersama.

Ketahuilah engkau wahai yang belum kutau itu siapa, aku punya sebuah mimpi yang ingin kuwujudkan hanya jika sudah bersamamu. Aku ingin selalu bersamamu, mengikutimu semampuku, takkan ku biarkan jarak membagi waktumu untukku. Aku ingin rumah sederhana kita nantinya dipenuhi buku – buku untuk jendela kita melihat dunia dan akhirat. Aku ingin kita tinggal di kota yang nyaman,tidak berkutat dengan kemacetan atau pergaulan yang terlalu bebas untuk masa depan anak – anak kita. Dan jika kau izinkan, aku ingin meninggalkan pekerjaanku saat ini untuk fokus menjadi istri dan ibu, sebagai penggantinya aku ingin aktif dalam pengabdian sosial-masyarakat di bidang keagamaan nya terutama. Aku juga masih ingin terus menulis untuk mencerahkan sesama di sela – sela pengabdianku kepadamu. Aku ingin kita sering mengunjungi orang tuamu dan orang tuaku yang sudah menjadi orang tua kita nantinya. Aku ingin kita hidup sederhana dan mengutamakan bekal akhirat bersama dengan terus menimba ilmu. Aku ingin kita menjadi pasangan yang dikenal santun dan menjadi contoh pasangan – pasangan lain nya dalam berumah tangga. Terakhir, aku ingin mencintaimu karena Allah, kau mencintaiku karena Allah, dan kita mencintai anak – anak dan orang tua kita karena Allah.

Adakah aku pantas untukmu, dan adakah kau mampu menjadi imam ku? Karena sesungguhnya ini hanya keinginan, sisanya hanya campur tangan Allah dan pengertian antara kita yang akan menjadikan kurang itu cukup. Semoga kau menerima ini sebagai harapan, bukan tuntutan karena aku sepenuhnya akan mengikuti keputusanmu sebagai imamku. Sampai jumpa di hari bahagia duhai calon imamku. 😊

 

 

Jakarta, 6 April 2017

Advertisements