Seperti halnya seorang pelukis yang kebanyakan menemukan “jodoh” dengan subjek lukisannya. Penulis amatir seperti ku pun seharusnya mempunyai patokan yang membuatku terus terisniprasi oleh subjek tersebut. Menurut tokoh Luhde dari novel Perahu Kertas karya Dee, pelukis seharusnya menemukan “binyang”nya untuk menjadi inspirasi yang bisa dibawa selama hidupnya. Tanpa sengaja hatiku pun tersentil membaca kalimat dari fiksi tersebut. Hampir setahun terakhir inspirasi ku hilang, tangan ku kaku, otakku yang biasanya lancar melahirkan kata – kata hingga merangkainya pun lenyap. Sering kupertanyakan apa yang membuatku benar – benar stag selama ini. Sering ku kambing hitamkan hobi baruku yang selalu up to date segala hal yang berhubungan dengan Korea. Namun lama ku menerawang, rasanya bukan itu permasalahan utamanya. Aku menyadari bahwa aku telah kehilangan sesuatu, dan seorang temanku baru saja menyeletuk saat kuungkapkan kegelisahanku. Riya berkata ringan ” Kamu sudah kehilangan Cinta”,begitu tuturnya.

 

 

 

Rasanya ada setetes embun membasahi hatiku yang baru kusadari mulai mengering. Mungkin benar yang dikatakannya. Mungkkin benar yang dikatakannya, karena selama ini kisahku lah yang menjadi inspirasiku. Dialah yang menghidupkan lilin – lilin hasrat pujanggaku,menorahkan segala keindahan melalui tulisan tak beraturan. Dan tepat setengah tahun yang lalu dia bersama ceritanya telah kubuang, kupendam, dan ku hindari segala hal yang membuatku mengingat, mendekati, dan menikmati lagi kisah semu itu. Kini aku merasa ada secuil penyesalan atas keputusanku yang kurasakan dalam kadar baik – baik saja sejauh ini.Dan lebih parahnya sekarang aku benar – benar membutuhkan inspirasi itu, karena rasanya begitu “kosong”. Tapi kini ada satu pengecualian, aku hanya ingin menjadikannya sosok yang meninggali hatiku untuk mempertahankan inspirasiku saja. Selebihnya aku tidak akan memasuki kenangan indah yang menyesakkan itu lagi. Setidaknya akan kubiarkan dia dan rasa cinta ku pada sososknya menjadi “bintang” ku sampai kutemukan “bintang” baru yang masih bersembunyi di balik awan hitam..

Dan ini bait – bait perpisahanku yang kubuat untuk mengukuhkan niatku meninggalkan dia sang inspirasi.

Ponorogo,10 August 2011

Teruntuk lelaki kecil itu

Dia yang mengawali kisahku

Meski masih terlalu pagi

Kepada lelaki kecil itu

Yang telah menelan dan memuntahkan hatiku

Membawa dalam ketidak pastian yang ku sukai

Dialah lelaki kecil itu

Telah memasungku hampir satu dekade

Menjadikanku orang bodoh ditemani tangis kerinduan

Dan lelaki kecil itu

Dengan sihirnya membuatku hanya mengenal satu cinta

Membutakan mata kepala dan hati

Untuk sekedar membawa sesuatu untuk menggesernya

Tetapi lelaki kecil itu

Hidup yang begitu indah telah kau rengkuh

Melambai bersama kenyataan normal hidup manusia

Maka lelaki kecil itu

Ingin kubawa hidupmu

menyentuh diriku kini

Dan lihatlah perbedaannya

Tumpang tindih tangis dan tawa

Menjadikan sosokku yang mendewasa tanpamu

Hingga lelaki kecil itu

Aku begitu bahagia pernah menjadi si bodoh

Sesalku kini telah berganti rasa kagum

Betapa kosongnya diriku dulu jika tak terisi olehmu

Dan kini aku telah mampu tanpamu…

dan postingan berikutnya akan kuisi bait baruku tentang nya,,,,,

Advertisements