Matahari pagi menyeruak di balik kelambu kamar VIP Rumah Sakit yang seperti biasa aku temui setiap hari. Seluruh organ tubuhku terasa lelah, kepalaku pening dan susah kugerakkan. Mataku pun begitu berat untuk mulai berkedip kembali. Entah aku sudah lupa jam berapa semalam aku mulai terlelap. Rasanya belum genap dua jam aku pejamkan mata di kursi ini. Kupandangi sosok yang setiap malam hampir satu bulan terakhir ini ku temani tidur malamnya. Dia masih terlihat pucat dan enggan membuka matanya. Tubuhnya yang dulu begitu kokoh kini terlihat kurus tak berkekuatan, rapuh!

                Ya dialah Fadli, seorang yang sekian lama kucintai. Seorang yang seharusnya tidak lama lagi mendampingi aku untuk hidup lebih baik nantinya. Dialah yang sebelumnya selalu menjadi sandaran kepalaku ketika aku tak mampu menyelesaikan masalahku sendiri. Tapi karena penyakit itu,penyakit yang diam – diam disembunyikan dariku dia jadi seperti saat ini. Radang selaput otak yang membuatnya terkapar tak berdaya saat ini. Aku benar – benar tak tahu lagi harus berbuat apa untuknya. Untuk seorang laki – laki yang sudah menjadi separuh hidupku ini.

                “Nadia…”,suara lirih dan gerakan jari – jarinya yang ku genggam mengagetkan lamunanku.

                “ Ehm,,,Iya Fad.”,jawabku sedikit terkaget.

                “ Kamu belum pulang? Nggak kerja?”,tanyanya lirih tanpa daya.

                “ Ohhh iya iya aku kerja kok,ini mau beres – beres pulang. Gimana badanmu enakan??”,jawabku menjelaskan sekaligus menanyakan keadaanya karena semalam aku datang Fadli sudah tertidur karena pengaruh obat.

                “ Hmmmh,”,jawabnya singkat disertai anggukan lirih yang membuatku semakin tak tega melihatnya.

                “ Ehmm kalau gitu aku pulang dulu yaa. Nanti sore pulang kantor aku kesini lagi, kamu mau dibawain apa?”,tanyaku.

                “……”,jawabnya hanya dengan gelengan.

                “ Oke.jangan lupa minum obatnya yaa sayang.“, pesanku lalu segera melangkah keluar kamar karena sudah tidak mampu menahan perihku melihatnya seperti itu.

                Namun langkahku terhenti saat tangan kirinya meraih tanganku dan menahannya. Hatikupun terasa hancur dan sekuat tenaga kutahan air mataku untuk berbalik lagi menatap wajahnya.

                “ Jangan tinggalin aku yaa Nad,ma’af.”,katanya dengan muka anak – anak yang takut ditinggalkan ibunya. Maka akupun segera kembali dan meraih tubuh rentannya ke pelukanku.

                “ Aku nggak akan kemana mana Fad,aku akan terus disini nemenin kamu,sampai kapanpun.”,dengan penuh ketabahan aku mengatakan semua itu. Aku tidak akan pernah menunjukkan rasa sedihku didepannya. Sampai kurasakan air matanya membasahi bahuku, lalu ku elus kepalanya sambil membuatnya tenang.

                Aku sungguh belajar banyak ketika Fadli dalam keadaan seperti ini. Aku seperti menerapkan ilmu – ilmu ku yang biasa aku berikan pada pasien di klinik. Pelajaran menata hati dan mengendalikan pikiran kini menjadi makananku sehari – hari. Bukan lagi hanya celotehanku pada orang – orang yang membutuhkan bantuanku untuk masalah psikisnya. Tapi aku tetap saja butuh pertolongan, aku bukan orang yang mampu mengobati diri sendiri. Di saat seperti ini aku benar – benar butuh orang untukku bersandar, disamping orang tuaku yang tidak begitu menyetujui aku tetap bertahan dengan Fadli. Dibalik pintu kamar E-301 ini kutumpahkan seluruh bebanku dengan air mata.

                Tapi tiba – tiba ada seorang yang mengagetkanku, ternyata anak kecil di depanku yang menyentuh tanganku.

                “ Kak, kenapa nangis??”,tanyanya tiba – tiba.

“….”,mulutku seakan kaku dan susah untuk menjawab pertanyaannya.

“Ini gelang dari Pak Dokter, katanya bikin kita nggak nangis kalau disuntik.”,katanya polos sambil memberikan gelang tali kepadaku. Aku pun segera mengusap air mataku.

                “ Ehh, iya dek. Kakak nggak nangis kok,makasih gelangnya adek saja yang pakai. Namanya siapa??”,kataku padanya sambil berjongkok karena tubuhnya yang kecil. Sepertinya baru berumur lima tahunan.

                “ Kakak saja yang pakai, aku udah gak nangis lagi kok kalau disuntik. Namaku Arista.”,jawabnya penuh kepolosan sedikit membuatku terhibur.

                “ Ohhh,terima kasih sayang. Kenalin nama kakak Nadia.”,sahutku lagi, sebelum seorang memanggil manggil nama Arista.

                “ Arista…Rista…Kamu dimana sayang??”,suara dari kejauhan memanggil manggil nama Arista.

                “ Iya Dok, Rista disini..”,jawab Arista yang sepertinya sudah hafal suara dokternya. Beberapa saat kemudian seorang laki – laki ber jas putih seperti selayaknya dokter menghampiri kami.

                “ Rista kemana aja? Tadi dicaariin kemana – mana.”,tanyanya sambil ikut berjongkok sepertiku menyesuaikan tinggi Arista.

                “ Tadi Rista lihat kakak Nadia nangis, jadi Rista kasi gelang dari Dokter biar gak nangis lagi. Liat kan Dok, sekarang kakaknya udah nggak nagis lagi.”,katanya panjang lebar dengan logat anak – anaknya yang masih kental.

                “ Ohhh,yaudah sekarang kakaknya udah nggak nangis jadi Rista balik ke kamar yaa. Bentar lagi kakak suster datang.”,kata si Dokter merayu Arista penuh kasih sayang.

                “ Iya Dok. Kakak Nadia gak boleh nangis lagi yaa..”,pesannya padaku sebelum Arista naik ke gendongan si Dokter.

                “ Saya duluan yaa,makasih sudah jaga Arista.”,kata si Pak Dokter lalu beranjak pergi bersama Arista.

*-*

                Seperti biasa kini aku punya cara hidup yang baru karena keadaan Fadli. Salah satunya adalah berangkat ke klinik dari Rumah Sakit lalu baru mandi dan bersih – bersih disana. Sebenarnya ini yang tidak disukai ayah ibuku, karena aku jadi tidak fokus dengan pekerjaan dan jarang pulang ke rumah. Lebih parah lagi sekarang aku jadi tidak memperhatikan kesehatanku sendiri. Sampai anemiaku sering kambuh kalau porsi tidurku banyak berkurang.

                Akhirnya seharian ini kuhabiskan di klinik dengan melayani beberapa pasien tetapku yang cukup rajin kontrol untuk konsultasi. Beberapa suap nasi padang juga masuk ke perutku karena hasil paksaan dari seorang rekan kerja di klinik yang mungkin kasihan padaku. Menjelang petang aku sudah mengantre bubur ayam kesukaan Fadli yang sengaja akan ku bawakan untuk makan malamnya. Dengan sebelumnya mampir ke rumah untuk ganti baju dan izin pada ayah dan ibu. Ayah adalah orang yang cukup cuek atau mungkin sudah jera mengingatkanku,jadi beliau tak berkomentar apa – apa. Sedangkan ibu memang orang yang sangat perhatian padaku,jadi setiap aku pulang selalu saja memberi sikap tak mendukung dengan perbuatanku yang seperti menyiksa diri ini.

                Namun aku sudah terlalu terlambat untuk menyerah bersama Fadli. Seperti apa pun nanti aku tak akan menyakiti Fadli tidak juga orang tuaku. Soal diriku, aku yakin tubuhku akan selalu mendukung apa yang ku mau. Usai mendapat seporsi bubur ayam pun aku segera menuju Rumah Sakit yang penghuninya sudah cukup akrab denganku akhir – akhir ini. Ketika aku sampai di depan kamar Fadli aku tersentak melihat perawat yang keluar masuk tergesa – gesa. Apa yang terjadi??Tiba – tiba badanku pun lemas melihat orang tua Fadli tertunduk di kursi tunggu.

                “ Ada apa bu??Fadli kenapa??”,tanyaku pada ibu Fadli yang sudah seperti ibuku sendiri. Aku sudah tak mampu lagi menahan kekhawatiranku.

                “ Nggak apa – apa Nad. Kata dokter ini wajar untuk pasien yang sedang pengobatan. Seterusnya setelah ini kita harus terbiasa kalau Fadli mengerang kesakitan atau muntah. Kita harus sabar Nad.”,jawab ibu Fadli yang membuat kesadaranku makin berkurang. Aku tak mengira kalau akan separah ini, aku tak menyangka kalau Fadli seakan – akan benar akan meninggalkanku. Sampai akhirnya tak ku dengar suara apapun dan yang ada hanya gelap.

*^*

                “ Tolong ambilkan kantong darahnya.”,suara asing itu samar – samar ku dengar semakin jelas.

                “ ……”,bibirku terasa kelu dan susah berkata – kata. Mataku berat namun kupaksa untuk terbuka.

                “ Istirahat saja dulu, ini sedang di transfusi darah karena kamu kekurangan darah. Punya anemia??”,tanya seorang dokter yang sudah pernah ku lihat. Aku baru sadar kalau ternyata tadi aku pingsan di depan kamar Fadli.

                “……..”,jawabku dengan anggukan saja.

                “ Jangan terlalu memaksa tubuh yaa, dia punya batas juga. Malam ini lebih baik menginap di sini dulu sampai benar – benar pulih. Kalau mau ke kamar Pak Fadli bisa pakai kursi roda atau minta tolong perawat. Saya dokternya Rista kemarin,anda ingat?”,katanya panjang lebar seperti layaknya dokter.

                “ Iya..”,jawabku sekuat – kuatnya yang ternyata hanya menghasilkan suara yang sangat lemah.

                “ Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu.”,katanya yang lalu melangkah keluar dari ruang perawatan sementara yang ternyata sekarang ku tempati.

                Tiba – tiba aku teringat lagi dengan keadaan Fadli yang ternyata semakin memburuk. Aku tak pernah mengira akan secepat ini aku harus terbiasa dengan kesakitan Fadli yang semakin menjadi. Apa yang harus kuperbuat untuk membuatnya terus kuat melawan semua ini. Kepalaku terasa pusing lagi mungkin karena belum makan sampai selarut ini ( setelah ku lihat jam menunjukkan pukul 22.25 WIB ). Untung saja ayah ibu tidak tahu keadaanku, walaupun aku akan durhaka jika terus – terusan seperti ini.

                Jam menunjukkan pukul 02.30 esok harinya, sekitar empat jam setelah aku mulai terlelap semalam. Ku lihat seorang perawat jaga tertidur di kursi kamar perawatan sementara ini. Setelah beberapa saat kucoba untuk tidur lagi tapi susah sekali. Akhirnya ku putuskan untuk ke kamar Fadli sendiri. Ku turunkan kaki ku ke lantai keramik yang dingin. Lalu kubawa botol infus di tangan kiri, sedang tangan kanan ku memegangi selangnya agar tak berantakan. Aku pun mulai melangkah pelan – pelan berharap tidak membangunkan si perawat. Setelah melewati pintu akhirnya aku lolos dan ku percepat langkahku menuju kamar Fadli yang masih satu lantai denganku.

                Malam ini Rumah Sakit tak sesepi biasanya jam segini, masih ada penunggu pasien dan perawat yang dalam kesibukan masing – masing. Sampai di depan kamar fadli langsung ku buka pintunya dan ku lihat ibu Fadli tertidur di tempat tidur penunggu pasien dan ayahnya di sofa. Aku langsung duduk di kursi samping tempat tidur Fadli. Ku lihat wajah lelah seorang yang begitu kucintai,saat tidur saja keningnya berkerut seperti menahan sakit. Tubuhnya berkeringat namun dingin. Aku semakin miris melihatnya tak berdaya seperti ini. Namun inilah kenyataanya,dan aku tidak akan bisa membaliknya lagi. Yang harus kulakukan hanya menjadi seorang yang berdiri mengokohkan tubuhnya. Mewakili berbicara,menggantikan kakinya untuk berjalan,dan merapikan hatinya yang mungkin tak pernah tenang sekarang. Meski sebenarnya aku pun tak lebih kuat darinya.

*^*

                “Selamat pagi,merasa lebih baik kah bu Nadia?Tidur nyenyak kan?”,tanya seorang suster pagi setelah malamnya aku berada di kamar Fadli. Aku sengaja kembali sebelum pagi tiba,karena takut merepotkan suster penjaga yang dikira lalai tidak menjagaku.

                “ Iya..”,jawabku singkat saja.

                “ Pagi ini selesei di cek oleh dokter anda boleh pulang. Sekarang selang infus nya saya lepas dulu yaa.”,kata si suster.

                “ Baik sus.”

                Dan benar saja pagi itu setelah di cek oleh dokter jaga semalam yang memeriksaku ( dokternya Rista.red ) aku pun diperbolehkan untuk pulang. Namun bukannya pulang tapi aku memutuskan untuk ke kamar Fadli lagi,setelah sebelumnya menghubungi petugas untuk menutup praktek ku pagi ini. Aku merasa tidak tenang sebelum melihat Fadli dalam keadaan sadar. Jadi ku korbankan pekerjaan ku untuk pagi ini saja.

                Sampai di kamar pasien yang sangat sering kulihat sampai kejenuhan terkadang tiba. Ku lihat seorang Fadli sedang duduk bersandar sendirian di dalam sana dari kaca transparan pintu. Ku putuskan masuk dan menyapa nya seakan tidak terjadi apa – apa semalam.

                “ Pagi sayang..”,sapaku sambil berjalan ke arahnya lalu duduk di sampingnya.

                “……”,dia hanya menyuguhkan senyumannya yang sedikit dipaksakan.

                “ Kenapa? Kok gak dijawab malah cuma senyum?”,tanyaku padanya dengan muka yang sama sekali tidak ada kesedihan.

                “ Aku boleh sendiri dulu Nad?”,tanyanya padaku tiba- tiba. Tidak seperti biasanya dia melakukan itu.

                “ Memang kenapa?”,tanyaku sambil mengusap dahi dan merapikan rambutnya.

                “ Aku pengen sendiri dulu”,jawabnya lagi dengan sedikit penegasan yang membuat aku paham.

                “ Ok. Aku keluar dulu yaa. Kalau butuh aku kasih tahu perawat aja,aku diluar.”,kataku kemudian aku melangkah keluar.

                Sampai di luar kamar Fadli aku hanya bisa terduduk di kursi tunggu tidak jauh dari pintunya. Pikiran ku pun mulai menerawang jauh,kekhawatiranku bertambah setelah melihat sikap Fadli menolak bertemu denganku. Bukan hal yang biasa dilakukan Fadli dalam keadaan apapun sebelumnya. Tapi segera kutepis pikiran burukku dan menganggap itu efek dari sakitnya semalam. Kutenangkan diriku sendiri yang sebenarnya tak pernah bisa tenang.

*^*

                Dua hari sudah kuhabiskan waktu duduk di depan ruang rawat Fadli setiap sore hingga larut. Dua hari sudah Fadli menolak bertemu denganku tanpa memberi alasan apapun. Dua hari sudah aku menyaksikan kesakitannya dari balik kaca pintu kamar perawatannya. Ibu Fadli pun hanya mampu menenangkan dan memberiku banyak pengertian. Tapi hatiku tidak akan mampu bertahan lama-lama menghadapi keadaan ini. Akhirnya kuputuskan untuk menemui Fadli setelah dokter melakukan pengecekan rutin sore itu.

                Pertama ku buka pintu dia segera menengok dan menatapku lekat-lekat penuh kepedihan yang disembunyikan di matanya. Aku terus berjalan mendekatinya sampai kudengar suaranya bergetar.

                “ Berhenti disitu Nad!”,katanya dengan paksa mengeraskan suaranya.

                “ Fad,kenapa?”,jawabku setelah aku berhenti di tempatku berdiri. Masih sekitar dua meter di samping tempat tidurnya. Dadaku berdegup, hatiku seperti berontak ingin meminta penjelasan dari sikapnya yang berubah. Namun kata yang keluar dari mulutku selalu lembut seakan tak mau menyakitinya sedikitpun.

                “ Jangan Nad,jangan kesini lagi!Jangan lagi memberiku harapan kosong,aku tidak akan mampu bertahan. Sebentar lagi aku akan meninggalkanmu, aku akan mati Nad! Jangan sia-siakan hidupmu.”,katanya cukup panjang dan menyentakkanku dalam kepedihan.

“….”,Kaki ku lemas dan mataku mulai berkaca-kaca. Kenyataan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Karena baru beberapa hari yang lalu Fadli memintaku tidak meninggalkannya.

“ Biarkan aku pergi sendiri Nad, aku tidak mau kamu menangisi kepergianku nanti.”,katanya lagi dengan nada yang semakin dikuatkan meski ku lihat ada kepedihan yang ditahan didalamnya.

“ Fadli..”,kataku memanggil namanya yang diiringi tangis yang pecah selanjutnya. Kini aku berdiri lemas menyandar dinding sambil satu tanganku menutup mulutku menahan tangis.

“ Aku lebih rela kamu tidak datang kesini lagi Nad,hiduplah yang baik. Lupakan semua kenangan burukmu denganku. Carilah seorang yang bisa lebih baik menjagamu dibanding aku.”,katanya panjang lebar lagi.

“….”,kali ini aku benar-benar sudah tidak tahan mendengar kata-kata Fadli. Aku menyeret kakiku ke luar kamar Fadli sambil terus terisak.

Di luar ruangan tak kutemukan seorang pun yang kuharap bisa menenangkanku atau berbagi kesedihan. Akhirnya tubuhku pun terhempas di kursi yang sudah biasa kududuki ini. Ku tumpahkan seluruh air mataku yang sempat tertahan saat didepan Fadli tadi. Kuratapi semua yang baru saja terjadi, menyadarkan diriku sendiri kalau ini bukan mimpi. Kali ini aku merasakan ketidak adilan Tuhan atas hidupku dan Fadli. Tapi segera kubuang persepsi burukku itu.

Tidak beberapa lama setelah aku mulai menghapus air mataku dan mencoba tenang,seorang duduk disampingku mengagetkan. Ternyata seorang yang sudah pernah kulihat.

“ Maaf saya mengganggu.”,kata seorang yang ternyata dokternya Arista kemarin.

“ Ehm,nggak kok dok.”,jawabku segera membersihkan sisa air mataku lalu menyuguhkan senyum perih yang kupaksakan.

“ Jangan dipaksa tersenyum,kalau memang sedih ya sedih saja. Tadi saya diminta Arista untuk menemui kamu setelah dia melihat kakak Nadia menangis lagi.”,katanya menjelaskan.

“ Ohh,Arista nya mana dok?”,tanyaku segera mengalihkan pembicaraan.

“ Sedang di kemoterapi di ruang sebelah ini. Arista adalah pasien anak pertama bagi saya sekaligus pasien paling hebat yang pernah saya temui. Dia tidak pernah sekalipun menunjukkan kesedihannya bahkan untuk menangispun dia mampu untuk menahan. Padahal saya tidak yakin akan tahan jika mendapat sakit seperti dia.”,ceritanya cukup panjang yang intinya aku tahu ingin memberiku semangat.

“ Iyaa dok.”,jawabku singkat.

“ Nama saya Rian. Umur kita sepertinya tidak terpaut jauh, panggil nama saya saja.”,katanya lalu mengenalkan diri.

“ Ohh iyaa. Saya Nadia.”,jawabku yang lalu ikut mengenalkan diri.

“ Saya tahu perasaan kamu menghadapi sakitnya Pak Fadli. Dibutuhkan banyak kesabaran dan keikhlasan memang. Satu lagi pesan saja kamu jangan pernah menyerah menghadapi apapun. Bahkan sampai kemungkinan terburuk, kamu harus bisa menghadapinya dengan tegar. Saya tahu itu tidak akan mudah untuk mengikhlaskan orang yang dicintai pergi,tapi kenyataan mungkin saja datang. Dan kamu jangan sekalipun tidak terima dengan takdir itu,karena akan semakin menyakitinya. Kalaupun harus melepasnya pergi, lepaslah dengan senyuman, dengan keikhlasan maka Pak Fadli pun akan bahagia.”,katanya berceramah membuatku masuk dalam keterpurukan lagi.

“ Cukup Dok, jangan bicara lagi. Fadli tidak akan kemana-nama,dia akan sembuh dan kembali sehat!”,kataku menyentak dengan nada meninggi.

“ Tenangkan diri kamu Nad, segala hal itu mungkin saja terjadi. Jangan pernah mengingkari kenyataan lagi.”,katanya menambahkan.

“ Tapi dokter tidak merasakan jadi saya, dokter tidak punya hak memberi ceramah ini. Saya tahu apa yang harus saya lakukan dok!”,jawabku cukup ketus karena merasa digurui oleh orang yang nggak pernah merasakan apa yang kurasakan saat ini.

“ Nadia, maaf kalau saya lancang. Kapasitas saya disini hanya sebagai dokter yang sudah sehari-hari memberi semangat pada pasien dan keluarga pasien. Saya harap kamu bisa berfikir jernih dan menghadapi kenyataan dengan tabah. Jangan pernah membiarkan hidupmu berantakan karena cobaan yang seharusnya bisa dilalui dengan mudah asalkan kamu mau ikhlas.”,katanya panjang lagi.

“….”,sengaja aku ingin diam untuk berfikir dan menyudahi perdebatan agar tidak semakin parah.

“ Maaf sekali lagi,saya pamit dulu yaa.”,katanya yang kemudian berlalu dari sampingku.

                Hari itu juga untuk pertama kali aku pulang kerumah sebelum larut malam akhir-akhir ini. Ayah dan Ibu hanya diam dan tidak menanyakan apa – apa setelah melihatku masuk rumah dengan muka sembab. Aku pun menyapa kamarku yang benar – benar tidak terawat karena aku hanya focus pada Fadli. Di meja pun ada amplop surat yang bertuliskan klinik tempatku bekerja. Segera ku buka isinya yang membuatku penasaran karena baru kali ini aku mendapatkannya. Setelah ku buka kepedihan ku pun semakin dalam karena itu adalah surat peringatan pertama karena kerjaku yang berantakan akhir – akhir ini. Memang aku hanya masuk tiga kali dalam seminggu terkhir ini.

                Kepala ku pun tiba – tiba pusing dan tangisku pecah lagi dalam sepi kamar yang jarang kusapa. Rasanya begitu miris menyadari hidupku saat ini yang berantakan. Aku tahu semua ini terjadi karena aku yang belum bisa terima dan tidak ikhlas dengan sakitnya Fadli. Rasanya memang tidak adil jika aku mengorbankan hidupku, orang tuaku, pekerjaanku karena ketidak dewasaanku sendiri. Mulai saat ini pun aku ingin menata hidupku kembali, menganggap semua baik – baik saja. Karena aku juga sadar kalau Fadli pun menginginkan aku menganggapnya baik – baik saja dan tidak terlalu menghawatirkannya seakan – akan dia benar – benar akan mati. Orang tua ku dan pekerjaan ku pun juga tidak akan adil jika kukorbankan.

***

                Pagi nya aku lakukan rutinitas seperti tidak terjadi apa – apa sebelumnya. Aku pun sempat sarapan bersama Ayah dan Ibu sebelum berangkat ke klinik.

                “ Ibu kangen liat kamu sarapan bareng Nad, makan yang banyak yaa.”kata ibu membuatku semakin sadar.

                “ Iya buu.”,hanya sedikit komentarku kemudian makan lahap masakan ibuku yang sudah lama tidak kusentuh.

                Ayah hanya diam bisu sepanjang sarapan pagi ini. Tapi aku menganggapnya biasa saja, karena hati ayah pasti berontak melihat hidup anaknya akhir – akhir ini. Namun yang membuatku terenyuh adalah saat aku berpamitan berangkat kerja dengan mencium tangannya, ayah mengelus kepalaku penuh kasih. Hampir saja aku menangis dihadapannya, tapi kutahan karena tidak mau lagi menunjukkan ketidak dewasaanku.

                Klinik pagi ini begitu ramai pasien,entah kenapa hal itu membuat semangatku terbakar. Teman – teman konsultan pun begitu biasa menerimaku tanpa menanyakan keadaanku akhir – akhir ini yang berantakan. Kusempatkan pula makan siang dan ngobrol ringan bersama mereka. Sungguh keadaan yang ternyata kurindukan setelah lama tidak kulakukan. Sorenya pulang dari klinik kusempatkan membeli ayam bakar kesukaan Ayah untuk makan malam nanti.

                Sampai di rumah pun segera kusiapkan makan malam bersama Ibu yang mengajak Ayah makan bersama. Ibu yang sungguh mengerti aku menanggapi sikapku dengan biasa saja. Di meja makan seperti sebelumnya Ayah hanya diam. Berbeda dengan Ibu yang sudah sempat bergurau seperti biasa.

                “ Nad, kamu sudah seperti orang hidup lagi sekarang. Kamu kemana selama ini?”.kata Ayah tiba – tiba di tengah makan malam itu.

                “ Ehmm, maafkan Nadia Yah. “,kataku sambil tersenyum kepadanya.

                “ Kamu harus lebih dewasa menghadapi semuanya Nad. Ayah selalu dukung kamu dari belakang.”, katanya lagi yang membuatku tersentuh.

                “ Iya Yah.”,jawabku singkat yang kemudian semakin lahab menghabiskan makanku.

                Setelah makan malam pun kusempatkan nonton TV bersama Ayah dan Ibu. Hal yang tidak pernah kulakukan sebelumnya karena pulang selalu larut malam, saat mereka sudah terlelap tidur.

                Pukul 23.15 aku masuk ke kamarku berniat akan istirahat karena besoknya akupun harus kembali ke klinik. Namun tiba – tiba Fadli pun terlintas di fikiranku, dan membuatku susah menutup mataku. Hari ini aku benar – benar tidak tahu keadaan Fadli. Tapi segera kutepis lagi fikiranku,karena Fadli pun masih ingin sendiri. Aku tidak mau lagi berlebihan mengkhawatirkannya yang malah membuat dia merasa dikasihani.

                Esok siangnya di klinik saat sedang berjalan bersama rekan konsultan ke kantin untuk makan siang, tiba – tiba handphone ku berbunyi dan tertulis nama Fadli memanggil.

                “ Halo,,”,jawabku ragu setelah mengangkat panggilan itu.

                “ Nad,.aku kangen.”,katanya singkat dan menyedihkan seperti anak kecil.

                “ ….”, bibirku tak mampu berkata, aku pun sejenak merdiri kaku ditempatku.

                “ Nad, kamu dimana?Aku kangen Nad.”,katanya mengulangi lagi.

                “ Fadli, aku juga kangen sayang. Sore ini aku kesana yaa, Aku bawain martabak mau kan?”,jawabku setelah mengalahkan rasa pedihku mendengar suaranya.

                “ Iya Nad,aku tunggu.”,katanya singkat yang kemudian menutup pembicaraan dan memutus panggilannya.

                Sungguh suatu hal yang tidak penah kusangka sebelumnya. Aku saat ini sengaja ingin mengalihkan perhatianku sejenak dari Fadli, namun dia ternyata masih menginginkan ku mendampinginya. Benar saja sore itu aku menyambangi Rumah Sakit dengan membawa sebungkus senyum dan sebungkus martabak. Kedatanganku kali ini sungguh berbeda dari sebelumnya yang selalu dengan muka menahan kepedihan. Kutemui Fadli yang sore itu juga terlihat lebih sehat dari dua hari yang lalu. Dia makan begitu lahap martabak bawaanku sampai tersedak karena tertawa mendengar guaruanku. Aku pun segera keluar memintakan air putih pada perawat. Di jalan menuju ruang jaga perawat aku pun bertemu Arista.

                “ Rista mau kemana sayang?”,kusapa dia di atas kursi roda yang sedang di dorong seorang perawat.

                “ Rista mau kemoterapi kak, kakak kemana saja? Rista lama nggak lihat.”katanya yang kemudian bertanya balik padaku.

                “ Ohh kakak ada kerjaan sayang”,jawabku sambil tersenyum meski agak miris melihat muka Rista yang agak pucat kali ini.

                “ Kakak nggak boleh nangis lagi yaa. Rista mau masuk ruangan dulu.”,katanya polos kemudian berpamitan.

                “ Iyaa sayang, kakak nggak akan nangis lagi. Janji!he.”jawabku ceria di hadapannya yang kemudian membuatnya ikut tersenyum.

                Setelah Arista berlalu aku pun meneruskan niatku meminta air minum untuk Fadli. Sesampai ruang Perawat tiba – tiba seorang perawat tergesa – gesa berjalan ke arahku.

                “ Bu Nadia, pak Fadli collapse sekarang!”,kata – katanya menghentikan langkahku dan segera berbalik lalu berlari kembali ke kamar Fadli.

                Disana kutemukan baju Fadli sudah basah karena muntahannya. Segera kuambilkan wadah muntahan yang memang sudah disiapkan di dekat ranjangnya. Kurangkul badan ringkihnya dan mengelus punggungnya sementara dia kesakitan membuang semua makanan yang baru ditelannya. Kuusap muka dan kugantikan bajunya setelah sekitar 15 menit menemaninya kesakitan. Dia pun hanya mampu lemas dan melihatku penuh kepedihan. Kubalas tatapannya dengan senyuman termanisku, aku benar – benar ingin membawa ketenangan untuknya saat ini. Bukan waktunya lagi terpuruk dan membuatnya semakin sedih.

                “ Aku sayang kamu Nadia.”,kata Fadli berbisik setelah selesai kubersihkan semua muntahan dan memberinya obat malam itu.

                “ Aku juga Fadli, sampai kapanpun.”,kataku terakhir sebelum dia tertidur dan aku pun berangkat pulang karena Ibu Fadli sudah dating untuk menjaganya.

                Seterusnya kulakukan semua sewajarnya, antara hidupku sendiri dan hidup Fadli yang mempengaruhi hidupku. Aku sadar Fadli pun semakin nyaman dan menerima keadaanya. Kami pun seperti hidup kembali karena menjalani kenyataan dengan ikhlas. Sampai tiga bulan berikutnya di malam 40 hari meninggalnya Fadli. Hari itu begitu sibuk rumah keluarga Fadli karena banyak kerabat yang dating untuk berdoa bersama. Aku bersama Ayah dan Ibu pun ikut menghadiri untuk kedua kalinya setelah sebulan lebih malam meninggalnya.

                Disana tidak sedikitpun kutunjukkan rasa sedihku di hadapan semua yang datang. Karena pesan terakhir Fadli yang menginginkanku untuk ikhlas melepasnya. Dan aku pun yakin bahwa Fadli sudah tenang dan lebih bahagia jika dipanggil oleh Nya. Aku bersyukur sudah menyadari ketidak dewasaanku jauh sebelum Fadli pergi. Dan dapat melepasnya dengan ikhlas tanpa penyesalan maupun tidak terima atas takdir yang ada.

                Malam itu saat aku sedang sibuk menyiapkan acara, tiba – tiba seseorang mengagetkanku.

                “ Sebenarnya Fadli adalah teman baikku dan dia sudah berpesan padaku untuk membuatmu tidak sedih sejak pertama dia tahu penyakitnya. Aku tidak cuma omong kosong dan menggurui,karena aku pernah merasakan kehilangan yang begitu besar saat anak kesayangnku Arista meninggal dua bulan yang lalu. Semua sudah jalan darinya Nad, dan kita sudah berhasil menjadi sosok yang ikhlas menghadapinya.”,katanya yang kemudian kusadari kalau dia adalah Dokter Rian. Aku pun menangis pedih untuk pertama kalinya setelah kepergian Fadli malam itu.

SELESAI

 By Ratna Endartyana

Advertisements