Sangat ironi memang jika membayangkan carut – marut negeri ini karena ulah ego pembesar semata. Seperti sudah menjadi cap yang tak bisa dihapus, kekuasaan begitu menarik untuk diperebutkan oleh orang – orang yang belum tentu berniat baik. Mencari muka dengan memberi santunan maupun jamuan sudah menjadi kegiatan hari – hari yang biasa terlihat di berita aktual. Padahal tujuannya juga tidak jelas, bahkan sering mengada – ada. Contohnya saja, mengundang anak yatim saat akan menjadi kandidat pemilihan bupati atau calon legislatif. Ujung – ujungnya acara itu hanya kedok untuk menjaring massa demi kesuksesan pribadi. Kejadian yang masih hanyat dibicarakan saat ini juga bisa menjadi contoh jelas. Saat Tim Nasional Sepak Bola Indonesia sedang menjadi pembicaraan publik karena performanya di babak penyisihan Piala AFF yang gemilang, elit politik pun memanfaatkan hal tersebut. Dengan berbagai macam alasan,mulai dari perjamuan biasa sampai syukuran atas kesuksesan Tim Nas. Padahal para pemain yang masih harus bertanding di babak berikutnya butuh waktu untuk istirahat. Atau mungkin lebih perlu banyak waktu untuk berlatih agar siap di pertandingan berikutnya. Bukankah begitu egois jika dikaji lebih jauh. Seluruh masyarakat Indonesia mengelu – elukan tim nas dan berharap besar dapat menjadi juara,tapi mereka yang gila kekuasaan dengan enaknya mencari muka dengan cara yang sebenarnya sangat merugikan jika dilakukan saat itu. Eksistensi,mungkin itu yang menjadi prinsip orang – orang atau oknum terkait yang mengadakan hal tersebut. Dengan tujuan tidak ingin terlupakan publik,merekapun merelakan sedikit uang mereka untuk dibagi meski niatnya tidak jelas. Namun yang disayangkan juga adalah kemungkinan pihak dalam dari PSSI yang ikut andil dalam acara – acara tersebut. Jika dipikir lebih jauh,siapa yang memutuskan izin para pemain menghadiri acara – acara tersebut jika bukan orang dalam yang cukup berkuasa di PSSI. Benar – benar sebuah ironi yang sering terlihat kasat mata seluruh rakyat Indonesia terhadap para pemimpinya. Bahkan mungkin akan menjadi penyakit yang meracuni bangsa jika terus dibiarkan.(Re.)

Advertisements