Tentang sosok penggubah kata yang membuatku terkesima. Dialah sang “ Aku “, dialah manusia berumur pendek bernama Chairil Anwar. Dia yang dilahirkan di Medan, 26 Juli 1922 dan dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan dengan kedua ibu bapaknya bercerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda dan pukul 15.15 WIB, 28 April 1949 setelah sempat diopname selama lima hari di  CBZ (sekarang RSCM), Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya,tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis menjadi penyebabnya. Hanya 27 tahun hidupnya di dunia yang dipenuhinya dengan syair – syair fenomenal.

Pada awalnya seperti biasa aku mengagumi seorang yang menurutku begitu berbeda. Dengan hanya membaca bukunya “ Aku “ yang sudah ditulis ulang oleh Sjuman Djaja dan beberapa kumpulan puisinya, sedikit terkoyaklah kisahnya. Memang, baik dan buruk seseorang akan banyak terungkap setelah dia “tiada”. Namun aku selalu memandangnya dari sisi positif sebagai seorang anak bangsa yang pandai menguntai kata.

Jujur, puisi memang sesuatu yang sudah sangat melekat dalam hidupku hingga menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Dengan untaian kata – kata kias itu kumuntahkan pahitnya hidup dan kubagi tawa bahagia. Puisi menurutku bukan hanya kumpulan kata yang dirajut indah. Tapi juga penuh makna, nilai estetika dan seni yang tinggi. Puisi menurutku adalah perwakilan dari hati yang tak mampu berbicara sendiri.

Seorang Chairil Anwar dimataku adalah penyair ulung yang dengan kata – katanya mampu membuatku bergetar. Yang lebih mengagumkan lagi adalah kalimat lugasnya yang terkesan mudah dicerna meski agak terasa kasar.

“ aku ini binatang jalang

dari kumpulannya terbuang “

Di atas adalah potongan bait dari puisi “ Aku” yang begitu fenomenal di kalangan khalayak dan juga begitu lekat di hatiku. Meski terasa terlalu kasar dalam menggunakan kata – kata namun itu yang membuatku terinspirasi untuk menjadi penyair yang mempu menggetarkan para pembaca seperti sosoknya.

Satu potongan bait lagi yang mampu membuatku semakin mengaguminya adalah

“ Tuhanku

Di pintuMu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling.”

Sebuah puisi mengatas namakan Tuhan yang begitu menyejukkan. Di dalam bait utuhnya tercipta keindahan dari cara memuji Tuhan yang disebutnya berkali – kali.

Dua potongan bait dari dua karya Chairil inilah yang mampu membuatku terpana oleh nya. Karena bait – baitnya tangan ku pun sampai sekarang tak mampu berhenti menulis sajak. Andai saja umurnya lebih panjang dari 27 tahun, pastilah dia menjadi seorang sastrawan yang di elu – elu kan. Namun semua tidak akan mungkin terjadi karena takdir Tuhan telah membawanya dalam kematian.  Di akhir hidupnya,ia meninggalkan warisan karya yang tidak begitu banyak,yaitu 70 puisi asli, 4 puisi saduran,10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4
prosa terjemahan.

Yang bersisa sekarang adalah aku yang sebenarnya. Aku yang membanggakan sosok penyair Chairil Anwar. Aku yang suka bergelut dengan kata dan merajutnya menjadi bait. Aku yang terinspirasi oleh Chairil Anwar dan berharap menjadi pujangga yang lebih baik darinya. Dan yang mampu ku lakukan sekarang adalah menulis, terus menulis. Bukan hanya untuk konsumsi pribadi, tapi juga untuk pencerahan bagi orang lain. (ratna)

Advertisements